Target Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengejar 1.100 emiten hingga 2030 dinilai sebagai sasaran yang realistis, seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan korporasi melalui pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang ruang pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat masih terbuka lebar, terutama jika didukung oleh ekosistem penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Ambisi tersebut mencerminkan upaya memperdalam pasar modal Indonesia agar tidak hanya bertumpu pada investor ritel, tetapi juga menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan dari berbagai skala. Dalam beberapa tahun terakhir, minat perusahaan untuk melantai di bursa terus meningkat, didorong oleh kebutuhan ekspansi, penguatan struktur permodalan, serta keinginan memperbaiki tata kelola perusahaan melalui status sebagai perusahaan publik.
OJK Tekankan Kualitas, Bukan Sekadar Jumlah Emiten
Meski target 1.100 emiten dinilai dapat dicapai, tantangan utama bukan hanya menambah jumlah perusahaan tercatat. OJK menekankan pentingnya menjaga kualitas emiten, mulai dari kepatuhan terhadap keterbukaan informasi, tata kelola perusahaan yang baik, hingga kinerja bisnis yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, pertumbuhan jumlah emiten tidak mengorbankan kepercayaan investor terhadap pasar modal.
Dalam konteks ini, BEI dan OJK perlu memastikan bahwa pipeline IPO tidak hanya ramai secara kuantitas, tetapi juga kuat secara fundamental. Perusahaan yang masuk bursa idealnya memiliki model bisnis yang jelas, prospek pertumbuhan yang terukur, serta kesiapan menjalankan kewajiban sebagai perusahaan terbuka. Hal ini penting untuk mencegah volatilitas berlebihan dan menjaga reputasi pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global.
Peluang dari Sektor Baru dan Perusahaan Menengah
Target menuju 1.100 emiten pada 2030 juga membuka peluang besar bagi sektor-sektor baru, seperti teknologi, energi terbarukan, kesehatan, logistik, konsumer, hingga industri berbasis sumber daya alam bernilai tambah. Selain perusahaan besar, kelompok perusahaan menengah berpotensi menjadi motor pertumbuhan jumlah emiten apabila akses menuju pasar modal semakin mudah dan biaya kepatuhan dapat dikelola secara proporsional.
Pasar modal yang lebih dalam akan memberi manfaat luas bagi perekonomian. Bagi perusahaan, bursa menjadi alternatif pendanaan selain pinjaman perbankan. Bagi investor, bertambahnya emiten memperluas pilihan investasi dan mendorong diversifikasi portofolio. Sementara bagi negara, meningkatnya aktivitas pasar modal dapat memperkuat transparansi korporasi, memperbesar basis pajak, serta mendukung pembiayaan pembangunan ekonomi nasional.
Tantangan Literasi dan Kepercayaan Investor
Namun, pencapaian target tersebut tetap membutuhkan kerja bersama. Literasi keuangan, perlindungan investor, pengawasan transaksi, dan penegakan aturan menjadi faktor krusial. Semakin banyak perusahaan yang masuk bursa, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan yang efektif agar pasar tetap berjalan adil, teratur, dan efisien.
Dengan fondasi regulasi yang kuat dan seleksi emiten yang prudent, target BEI mencapai 1.100 emiten pada 2030 bukan sekadar angka ambisius. Lebih dari itu, target ini dapat menjadi momentum untuk membangun pasar modal Indonesia yang lebih inklusif, berkualitas, dan kompetitif di kawasan. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara percepatan IPO dan penjagaan standar tata kelola yang mampu mempertahankan kepercayaan investor dalam jangka panjang.





