JAKARTA — Prospek pembangunan infrastruktur pusat data atau data center di Indonesia kembali menjadi perhatian investor setelah Mirae Asset menyoroti potensi nilai proyek yang diperkirakan dapat mencapai sekitar US$13 miliar. Besarnya kebutuhan tersebut mencerminkan percepatan transformasi digital, pertumbuhan layanan komputasi awan, kecerdasan buatan, hingga meningkatnya konsumsi data oleh korporasi dan masyarakat.
Dalam lanskap ini, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia dinilai berpeluang memperoleh manfaat, terutama perusahaan yang memiliki eksposur pada sektor telekomunikasi, menara, kelistrikan, konstruksi, properti industri, hingga penyedia solusi teknologi. Meski rincian nama emiten perlu merujuk pada riset resmi Mirae Asset, tema investasinya cukup jelas: pembangunan data center tidak hanya membutuhkan gedung, tetapi juga konektivitas, pasokan listrik stabil, sistem pendingin, keamanan, dan integrasi jaringan.
Data Center Menjadi Infrastruktur Baru Ekonomi Digital
Data center kini dipandang sebagai tulang punggung ekonomi digital. Semakin banyak perusahaan memindahkan operasional ke platform berbasis cloud, sementara sektor perbankan, e-commerce, media digital, kesehatan, dan pemerintahan membutuhkan kapasitas penyimpanan serta pemrosesan data yang lebih besar. Kondisi ini membuka ruang ekspansi bagi operator infrastruktur yang mampu menyediakan layanan dengan standar keamanan dan keandalan tinggi.
Indonesia juga memiliki daya tarik strategis karena populasi internet yang besar, pertumbuhan transaksi digital, serta posisi geografis yang penting di Asia Tenggara. Jika ekosistem regulasi, pasokan energi, dan konektivitas internasional terus membaik, pasar data center domestik berpotensi menjadi salah satu yang paling kompetitif di kawasan.
Siapa yang Berpotensi Diuntungkan?
Secara bisnis, emiten telekomunikasi dapat diuntungkan dari permintaan konektivitas dan layanan jaringan. Emiten menara berpeluang memperluas peran dari penyedia infrastruktur pasif menjadi bagian dari ekosistem digital yang lebih luas. Sementara itu, perusahaan konstruksi dan properti industri dapat menangkap peluang pembangunan fasilitas fisik, termasuk kawasan khusus yang dirancang untuk kebutuhan pusat data.
Di sisi lain, emiten kelistrikan dan energi juga masuk dalam radar karena data center membutuhkan pasokan daya besar dan berkelanjutan. Tren global menunjukkan bahwa investor semakin memperhatikan efisiensi energi serta penggunaan sumber listrik yang lebih ramah lingkungan. Artinya, perusahaan yang mampu menawarkan solusi energi stabil sekaligus rendah emisi dapat memiliki nilai tambah dalam rantai pasok industri ini.
Investor Perlu Cermat Membaca Risiko
Meski peluangnya besar, investor tetap perlu memperhitungkan risiko. Bisnis data center membutuhkan belanja modal yang tinggi, periode pengembalian investasi yang panjang, serta persaingan ketat dari pemain global. Selain itu, faktor tarif listrik, ketersediaan lahan, perizinan, keamanan siber, dan kualitas jaringan menjadi penentu utama keberhasilan proyek.
Dengan nilai potensi mencapai US$13 miliar, tema data center berpeluang menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Namun, pemilihan saham tetap perlu berbasis fundamental, rekam jejak eksekusi, struktur pendanaan, dan kemampuan perusahaan menangkap permintaan nyata dari pelanggan korporasi maupun penyedia layanan cloud.





